Sunday, June 1, 2008

Profesional di Balik Strategi Pencitraan Soetrisno Bachir (2-Habis)

Takut Pusing, Minta Kader Tak Hitung Nilai Kontrak
Tak mudah membuat deal antara pimpinan sebuah partai politik dan lembaga profesional seperti Fox Indonesia. Apalagi, itu menyangkut jumlah uang yang sangat besar.

CANDRA K-A. BOKHIN, Jakarta

SEBELUM dirilis, berbagai gagasan Fox memasarkan Soetrisno Bachir (SB) dipresentasikan di jajaran pimpinan Partai Amanat Nasional (PAN). Rizal Mallarangeng, pimpinan Fox, saat itu mengajukan konsep 3M: money, media, dan momentum.

Meski akhirnya banyak yang mendukung, saat itu tak sedikit kader PAN yang mencibir. Ada pula yang meragukan kredibilitas Rizal Mallarangeng karena dia pernah menjadi tim sukses Megawati -yang akhirnya gagal meraih kemenangan- pada Pilpres 2004.

Terlebih, kakak kandung Rizal, Andi Mallarangeng, saat ini menjadi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejumlah kader PAN khawatir, Rizal hanya mengejar “proyek” tanpa ada kesungguhan membesarkan PAN dan menaikkan rating SB di mata publik.

Rizal tak menampik anggapan miring tersebut. Dia mengaku banyak terlibat dalam menyukseskan orang menjadi presiden. Termasuk kakaknya yang “dititipkan” ke SBY. “Tapi, saya bekerja sesuai etik dan tanggung jawab profesional. Saya membantu Mas Tris (Soetrisno Bachir, Red) hingga April 2009. Selama itu seluruh pikiran dan energi saya hanya untuk Mas Tris dan PAN,” katanya.

Selesai kontrak, kelanjutan semua kerja sama PAN dengan Fox Indonesia diserahkan kepada SB -panggilan akrab Soetrisno Bachir. “Setelah April 2009 Mas Tris mau apa, saya siap menunggu,” katanya.

April 2009 menjadi tonggak penting kontrak politik antara SB dan Fox. Sebab, saat itu bisa diketahui berapa raihan kursi PAN di DPR. Dengan demikian, hasil kinerja konsep Fox itu bisa dinilai.

Besarnya dana yang digelontorkan untuk program pencitraan diri -konon, mencapai Rp 300 miliar- yang menjadi pembicaraan para kader itu direspons Soetrisno. Dia meminta jajaran internal partainya tetap solid. Dia memastikan, dedikasi, loyalitas, dan pengorbanannya terhadap PAN tidak berkurang hanya karena menggelontorkan sejumlah uang untuk Fox. “Dana untuk partai malah akan bertambah terus,” ucapnya.

Mengenai biaya iklan dan program Fox, Soetrisno meminta jajaran partai tidak iri. Sebab, pasang iklan di televisi, bioskop, koran, radio, dan media luar ruang memang memerlukan biaya tak sedikit. “Biar tak pusing sendiri, Anda sebaiknya tak usah tanya berapa uang yang saya keluarkan. Toh, Anda tak akan mampu menghitung,” seloroh Soetrisno setiap ada kader PAN yang bertanya soal program Fox.

Rizal Mallarangeng mengakui, sekitar 70-80 persen biaya pencitraan diri itu terserap ke biaya iklan televisi. Sebab, biaya satu menit iklan di media elektronik saat prime time bisa Rp 30 juta-Rp 45 juta. Padahal, dalam sehari, rata-rata 180 kali tayang. “Anda bisa hitung sendirilah,” katanya.

SB yang berlatar belakang pengusaha memang sedang bertaruh. Dia tak ingin suara PAN pada pemilu mendatang lebih rendah dibandingkan saat dipimpin Amien Rais. Karena itu, berbagai terobosan terus dilakukan. “Saya sudah kalah segala-galanya dari Pak Amien. Kesempatan saya mengalahkan Pak Amien cuma satu, yaitu merebut kursi DPR lebih banyak,” katanya. Saat ini PAN memiliki 53 kursi di DPR.

Pertaruhan itulah yang mendorong dia mau merogoh kocek pribadi tiada henti. Berapa pun dan kapan pun. “Yang saya lakukan baru jurus biasa-biasa saja. Ini belum termasuk jurus dewa mabuk,” ujarnya.

Lalu, dari mana saja sumber uang SB? Orang hanya mengenal dia sebagai juragan batik bermerek BL (Bachir Latifah) dari Pekalongan, Jateng. Dia memang lahir dan dibesarkan dari keluarga pengusaha batik. Tapi, berkat kerja keras dan kesungguhannya, dia kini telah menjadi pebisnis andal.

Lewat bendera Sabira Group yang bermarkas di gedung Landmark Jakarta, pria kelahiran 10 April 1957 itu merambah ke berbagai bidang usaha. Bisnis utamanya ialah mengeruk uang lewat pasar modal. Saham-saham blue chips selalu menjadi incarannya. Dia juga menanamkan uang ke berbagai perusahaan yang berprospek baik, seperti sektor migas, telekomunikasi, properti, dan perkebunan.

Konsep bisnis Soetrisno umumnya penyertaan modal ke perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek baik. Termasuk bermitra dengan pengusaha-pengusaha papan atas nasional. Dengan pola itu, pundi-pundi periuknya terus membubung.

“Kalau banyak orang kesulitan mencari uang, alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk terus mencari celah mengeluarkan uang,” ucap Soetrisno.

Dia membantu para kader PAN yang maju di ajang pilkada. Lewat zakat, dia membantu para duafa di seluruh negeri. Lewat SB Foundation, dia juga membantu pengembangan kewirausahaan dan beasiswa anak-anak Indonesia.

SB juga membantu permodalan koperasi simpan pinjam syariah di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Untuk kantor DPP PAN, dia telah menghibahkan gedung berlantai tujuh di Jakarta senilai Rp 20 miliar.(el)

Sumber: Jawapos, 26 Mei 2008

3 comments:

superheru said...

Saya lulusan diskomvis. Melihat sebuah iklan pencitraan rasana merasa aneh. Kenapa aneh? Ya aneh, sebab tujuan akhir dari pencitraan adalah RI 1. Padahal, menurut saya, untuk meemilih seorang pemimpin tidak cukup dengan serangkain promosi untuk pencitraan. Setidaknya bagi saya pribadi, saya yang sebelumnya mendukungg PAN, jadi tidak simpatik lagi dengan adanya iklan SB. Sangat subyektif alasanya. Tapi memang begitulah kenyataanya, kita memilih orang yang rela mati demi kita. Itulah pemimpin kita. Saya bandingkan para tokoh-tokoh kita di iklan televisi yang membangun citra dengan sikap tulus Hidayat Nurwahid. Tanpa perlu iklan. Omongannya sesuai kenyataan. Mengembalikan fasilitas yang tidak perlu dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Itulah citra sesungguhnya. Banyak lagi contoh kepemimpinan dari partai yang dulu saya tidak simpatik ini, bahkan sampai sekarang. Namun dalam menilah Hidayat Nurwahid saya obyektif. Jadi SB dan tokoh lain yang membangun citra dengan biaya milyaran di TV itu tidak akan mengubah citra mereka di mata saya. Realitas keiklasan seseorang bisa dinilai dari tingkat ketaqwaanya. melihat ketakwaan bukan dari iklan, tapi dari cara berpikir,bertutur dan bertindak dalam keseharian.

jaka said...

wakakkaa itulah gaya kader PKS kalau mau kampanyein Nur Hidayat selalu bilang saya dulunya kader partai anu karena xxx (sambil menjelekan tokoh partai anu tadi) saya sekarang simpati ke Nur hidayat .

Kalau saya bukan kader PAN dan karenya saya tidak akan memilih SB :) hanya kalau bisa saya kasih saran saya lihat pencitraan di TV sebagai prolog bahwa SB adalah ketua PAN sudah cukup, jangan terlalu sering nanti masyarakat kebas, kampanye diam2 jauh lebih efektif, nongkrong diwarteg, naik tukang becak , nganter anak apa cucu sekolah ngobrol dengan ortu murid dll (tentunya cukup sama istri, gak usah mensertakan dpd dpc dll). nah dari cerita tukang becak, tukang nasi , ortu murid inilah rakyat lain "LEBIH PERCAYA" daripada koran ataupun jurkam.
dan masih ada waktu setahun kalau sehari bis aketemu 50 orang, betapa dasyatnya itu

superheru said...

Wakaka juga deh mas Jaka. Opini anda ternyata salah. Tapi saya maafkan dech :)))/
Ralat buat mas Jaka nih, terus terang saya bukan orang partai. Termasuk PKS. Kalau saya memuji Hidayat Nur Wahid, tidak perlu harus jadi simpatisan atau bahkan kader PKS. Bener gak mas Jaka? adapun saya tidak lagi simpati pada PAN, bukan berarti saya harus masuk PKS, betul gak mas Jaka? Itu logika yang saya paka mas, mas Jaka. Lalu kenapa memuji Pak Hidayat? Loh memuji perilaku orangg kan tidak ada larangan kan? Oya, kalo mas Jaka berpikir dan bbertindak seperti yang saya idealkan akan saya dukung kok kalo mau ikutan bursa Capres 2009. Ini obyekttif loh mas Jaka. Bukan menjilat juga, sebab menjilat itu di larang oleh agama saya kecuali satu hal, yaitu untuk mendapattkan ilmu boleh kita menjilat. Mendapatkan ilmu loh, bukan mendapattkan nilai seperti saat kuliah.
Balik ke permasalaha. Sayang sekali Pak Hidayat sepertinya tidak mau mencalonkan diri di pilpress mendatang. Sementara SB tetap gencar iklan pencitraan. Belum lagi menimbulkan banyak masalah, termasuk diprotes oleh Suster Apung karena saat syuting kattanya unttuk iklan layanan masyarakat. Kritik juga buat pembuat iklanya, Kalo tidak salah dibuat oleh Fox yah? (mohon koreksi kalo salah0. Dan kalo ga salah juga itu melibatkan Rizal Malarangeng. Bandinggkan deh, ketika Rizal di acara Save Our Nation dengan sepak terjangnya di iklan. Menyelamatkan bangsa kok mengajak orang boros di iklan, bahkan dia sendiri boros beriklan di TV. Bukankan biaya iklan itu akan lebih 'menyelamatkan" bangsa bila disumbangkan ke rakyat yang kelaparan, butuh biaya sekolah, butuh modal usaya dan lain-lain?